Borobudur Jadi Wisata Religi

Borobudur Jadi Wisata Religi

Bicara soal destinasi wisata sejarah di Indonesia, memang tak ada habisnya. Sebagai Pulau Dewata, bukan hal mengherankan jika di Bali banyak pura dan tempat wisata sejarah bernuansa Hindu. Lain halnya dengan Jawa Tengah. Propinsi yang dinahkodai Ganjar Pranowo ini memiliki kawasan wisata sejarah populer di dunia yang bernafaskan Buddha, yaitu Candi Borobudur. Kabar terbaru menyebut Candi Borobudur jadi wisata religi umat Buddha baik di Indonesia maupun dunia. Demikian mengutip laman travel.detik  (26/11/2022).

Harapan Peningkatan Wisatawan

Penyematan Borobudur jadi wisata religi Buddha, diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke peninggalan wangsa Syailendra tersebut. “Dengan adanya aktivitas keagamaan semakin menambah daya tarik umat Buddha dunia untuk berkunjung ke Indonesia khususnya (candi) Borobudur. Sehingga semakin meningkatkan kunjungan wisatawan dari dunia maupun domestik,” ungkap Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi di konferensi International Buddhist Conference of Indonesia di Bukit Dagi, Candi Borobudur, Magelang, Jumat (18/11/2022).

Adapun konferensi itu, merupakan kerja sama dari Bimas Buddha dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Agama Buddha Indonesia (APTABI). Dilaporkan, sepuluh negara turut menghadiri acara tersebut, di antaranya adalah dari Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Vietnam, India, Amerika, Nepal, dan Kamboja.

Dharmayatra dan Wisata

Terkait tujuan, konferensi tersebut bermaksud memberikan pemahaman terhadap keberadaan candi yang pernah bertengger sebagai salah satu keajaiban dunia itu, untuk dharmayatra dan wisata. Dharmayatra sendiri adalah kegiatan napak tilas ke tempat-tempat suci Budhha. Dalam arti yang umum, makna dari istilah ini adalah ziarah ke tempat suci yang patut di puja atau dihormati.

“Artinya tidak hanya dalam wisata super prioritas, tetapi dimaknai juga dengan kegiatan pilgrimage berkaitan keagamaan sendiri,” ungkapnya.

Meski penyematan Borobudur jadi wisata religi baru saja dilakukan, tetapi hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. Sejauh ini candi ini telah digunakan sebagai tempat perayaan Waisak dan Asadha. Menyusul pemanfaatannya sebagai tempat wisata religi, ke depan juga akan dimanfaatkan untuk perayaan hari besar keagamaan Buddha lainnya.

“Seperti Hari Besar Asadha, Hari Besar Kathina dan Hari Besar Magha Puja, untuk pemanfaatan keagamaan. Yang lain juga kegiatan-kegiatan rutin ada pilgrimage, dharmayatra di tanggal 1, 15 penanggalan,” imbuhnya lagi.

Mahakarya Peradaban Maju

Sementara itu, pendiri candi buatan abad 8-9 M itu, adalah Raja Samaratungga. Merujuk buku Kearifan Lokal Jawa Tengah: Tak Lekang Oleh Waktu karangan Retno Susilorini, pembangunan candi ini untuk memuliakan Buddha Mahayana. Ini merupakan kepercayaan yang banyak dianut masyarakat sekitar kala itu. Relief candi menggambarkan kehidupan manusia juga lanskap alam serta budaya. Hal ini terlihat dari hadirnya perahu bercadik dan bangunan tradisional Nusantara di sana.  Melihat penuangan ide dalam relief yang detil dan penuh seni, menjadi penanda bahwa kala itu masyrakat sudah memiliki peradaban yang sangat maju. (y)

Share with care
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments