Lombok

Berkunjung ke Desa Tradisional Sade Rambitan

Desa Tradisional Sade Rambitan

Desa Tradisional Sade Rambitan merupakan desa wisata yang ada di kawasan Lombok.

Desa sade dijadikan desa wisata dikarenakan pada desa ini suku asli Suku Sasak Sade Lombok masih memegang teguh kepercayaan,  nilai budaya serta adat istiadat leluhur. 

Jika anda berkunjung ke Lombok jangan lupa untuk berkunjung ke desa ini. Sebelumnya mari kita cari tahu lebih lanjut mengenai desa ini yuk.



gios-Avatar

Alfonso giostanov

tour operator & content specialist. Before joining gotravela, he spent years honing his skill at ‘Tourism Industries Bali.

Sejarah Desa Tradisional Sade Rambitan

Desa Tradisional Sade Rambitan merupakan desa yang sudah berdiri semenjak 600 tahun yang lalu.  Desa ini ditetapkan sebagai desa wisata semenjak tahun 1989.

Pada masa dahulu masyarakat suku Sasak Sade menganut kepercayaan wektu telu (tiga waktu). Suku ini melaksanakan sholat hanya di tiga waktu.  Namun pada masa kini masyarakat suku Sasak Sade kebanyakan menganut agama islam secara penuh. 

Desa sade memiliki luas 5.5 hektar dan bangunan tradisional yang berjumlah kurang lebih 150 buah.  Setiap rumah dihuni oleh satu kepala keluarga dan jumlah total penduduk desa sade kurang lebih 700 penduduk.

Selain itu,  ada beberapa hal unik suku Sasak Sade yang mungkin jarang atau tidak Anda jumpai oleh masyarakat tradisional lain.  Berikut adalah beberapa hal yang membuat perkampungan suku asli Sasak ini unik dan patut untuk Anda kunjungi.

Desa Tradisional Sade

Bangunan Tradisional Adat Suku Sasak Sade

Seperti penjelasan di atas bahwa suku sasak Sade merupakan suku yang masih memegang teguh prinsip dan adat istiadat mereka.  Begitu juga dengan bangunan yang ada di desa Sade. 

Bangunan yang ada di desa Sade memiliki ciri khas bangunan tradisional Sasak.  Bangunan yang ada berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia kering dengan tiang terbuat dari kayu. 

Konstruksi rumah seperti ini membuat rumah terasa sejuk pada siang hari dan hangat pada malam hari. Bangunan rumah yang ada di desa Sade memiliki tiga jenis yang berbeda peruntukannya. 

Bale Bonter, merupakan bangunan tempat tinggal para pejabat desa. Kemudian Bale kodong, merupakan bangunan yang tempat tinggal pasangan yang baru menikah dan orang tua yang hanya tinggal menghabiskan masa tua. Terakhir yaitu Bale tani, merupakan rumah tempat tinggal keluarga atau pasangan yang sudah memiliki keturunan.

Selain perbedaan kegunaan dari ketiga bangunan yang ada di desa Sade keunikan lain yang ada pada bangunan adalah cara perawatan bangunan.  Pada bangunan ini,  suku sade menggunakan kotoran kerbau. 

Lantai pada rumah tradisional suku Sade terbuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi.  Lalu untuk setiap beberapa minggu atau saat mendekati upacara adat mereka mencampur kotoran kerbau dengan sedikit air untuk membersihkan lantai. 

Kemudian setelah kering mereka akan menggosok menggunakan batu atau sapu.  Meskipun dengan kotoran kerbau, namun jangan mengira akan bau.  Bahkan tidak ada bau khas kotoran kerbau sama sekali.  Hal ini bertujuan untuk mengurangi serangga serta nyamuk.

Suku sasak Sade terkenal dengan suku yang lebih memilih untuk menikah dengan orang yang masih satu suku atau satu desa.  Hal ini dipandang lebih murah ketika membayar biaya pernikahan dibandingkan dengan menikahi orang yang berada di luar Desa Sade.  Oleh sebab itu maka kebanyakan warga di Desa Sade sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan.

Atraksi Budaya Suku Sasak Sade

Suku Sasak Sade memiliki peninggalan budaya yang hingga kini masih terjaga.  Ketika berkunjung ke perkampungan desa wisata Sade, jangan lupa untuk mengeksplorasi kekayaan budaya yang ada.  Berikut beberapa atraksi budaya serta kebiasaan adat yang kawan-kawan bisa lihat di Desa Sade.

Desa Sade

Menenun kain

Berinteraksi dengan suku asli Sasak Sade merupakan salah satu atraksi tersendiri.  Di Desa Tradisional Sade Rambitan ini pengunjung bisa belajar cara menenun kain khas Lombok yaitu kain songket. Alat tenun kain songket ini disebut dengan Berire.

Untuk menyelesaikan satu kain songket mereka membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Benang-benang bahan pembuatan kain songket mereka dapatkan dengan memintal serat kapas dengan alat pemintal tradisional.

Untuk warna benang-benang tersebut, mereka menggunakan bahan alami seperti kunyit untuk warna kuning, daun kelor utuk warna biru.

Baca juga :

Begitulah seputar desa wisata Suku Sasak ini. Semoga dapat menambah wawasan Anda ya. Selamat berlibur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.