Nusa Penida

Legenda Dan Sejarah Nusa Penida

Legenda-Dan-Sejarah-Nusa-Penida

Artikel legenda dan sejarah nusa penida kali ini kami suguhkan untuk sobat travela yang penasaran akan kisah sejarah dan cerita rakyat (legenda) Nusa penida Bali.

Namun sudah tahukah Anda wisata 3 Nusa di Bali yang terdiri atas Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan?

Ya, ketiga nusa itu dipisahkan oleh Selat Badung dengan pulau besar Bali, atau biasa disebut mother of island.

Selain keindahan alamnya, Nusa Penida juga menarik dengan sejarahnya. Demikian pula dengan riwayat 2 nusa lainnya.

Nusa penida segara ceremoy

Legenda Dan Sejarah Nusa Penida

Untuk sejarah Nusa Penida sendiri, pastinya sangat menarik bagi para wisatawan yang berkunjung.

Sebab, disini pun masih terdapat adanya ritual khusus di pura yang ada di pulau Nusa Penida. Nusa Penida sendiri merupakan daerah yang sudah masuk Kabupaten Klungkung Bali.

Diantara ketiga pulau yang sudah disebut di atas, maka Nusa Penida adalah kawasan yang memiliki area paling luas.

Cukup banyak tempat rekreasi serta obyek wisata disini sehingga para pengunjung dapat menikmati bermacam wisata bahari yang pastinya indah.

Atuh-Beach-Nusa-Penida

Sebelum kita bahas lebih banyak mengenai sejarah Nusa Penida, maka ada baiknya bila kita bahas terlebih dahulu tentang letak geografisnya.

Nah untuk anda yang ingin berkunjung ke nusa penida maka anda pun bisa melalui empat pelabuhan utama seperti; Pantai Sanur-Denpasar, Benoa, Pelabuhan Padangbai dan Kusamba-Klungkung.

Atau juga bisa baca di artikel kami lainnya “Tips Bagaimana Cara Ke Nusa Penida“.

Mengenai Transportasi laut diatas, tentu anda tak perlu lagi khawatir sebab keempat pelabuhan tersebut sudah menyediakan fast boat dengan fasilitas terbaik hingga anda selamat sampai tujuan pulau nusa.

Fast boat bisa disewa dengan tiket sebagai sarana transportasi umum hingga private.

Setelah membahas kondisi geografis dan jalan menuju ke lokasi diatas, maka kini waktunya kita fokus membahas legenda dan sejarah Nusa Penida

Kita mulai dari legenda kisah rakyat nusa penida

Legenda Rakyat Nusa Penida

Alkhisah pada tahun Saka 50, Ida Bhatara Siwa bersama sakti Dewi Uma istri beliau tedun (turun) ke bumi beserta para pengikut Beliau seperti Tri Purusa, Catur Lokha Pala dan Asta Gangga.

Dewa Siwa bersama sakti Dewi Uma Legenda Dan Sejarah Nusa Penida

Turun disebuah Gunung yang sekarang Gunung tersebut bernama Gunung Mundhi. Di Gunung Mundhi inilah Ida Bhatara Siwa dan Sakti Ida Dewi Uma menjelma dari Meraga (be-Raga) Dewata menjadi manusia.

Bhatara Siwa & Dewi Parwati

Selain turun di puncak Gunung Mundhi, Ida Bhatara Siwa juga turun di sebuah tempat pada tahun Saka 55, yang sekarang bernama Tunjuk Pusuh.

Namun Dewi Kwan Im lebih dahulu turun pada tahun Saka 45 beristana di sebuah goa. Lalu Dewi Parwati menyusul turun ke bumi pada tahun Saka 60.

Sekarang tempat tersebut bernama Goa Giri Putri yang menjadi Pusering Jagat sedangkan Dewi Parwati yang bergelar Bhatari Hyang Giri Putri sebagai penjaga tirta yang ada di dalam Goa Giri Putri.

Keunikan-Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida

Selain beristana di Pura Goa Giri Putri dan Pura Tunjuk Pusuh mereka juga yang beristana di pura Batu Medau.

Baca juga: Upacara Adat Yang Jangan Terlewati Saat Berada Di Bali!

Dukuh Jempungan

Ida Bhatara Siwa menjelma menjadi seorang laki-laki, menjadi seorang Pandita (pendeta) yang bergelar Dukuh Jumpungan. Dari penjelmaan inilah daratan gunung mundi menjadi cikal bakal nama Nusa Penida.

Ida-Bhatara-Siwa
Ida-Bhatara-Siwa

Nama sebenarnya Nusa Penida adalah Manusa Pandita, manusa adalah seorang/manusia yang bernama Jumpungan, dan Dukuh adalah Seorang Pandita/pendeta.

** Kata dukuh dalam Kamus Jawa Kuno oleh Zoetmulder (1994:233) berarti pertapaan di hutan, bertempat tinggal di hutan dan dalam Kamus Bahasa Bali (Simpen, 1985:59) kata dukuh artinya wang mdwijati, adan soroh dukuh.

Manusa Pandita

Dari kata β€œManusa Pandita” inilah lama-kelamaan berubah menjadi Nusa Penida.

Pura Puncak Mundi Nusa penida

Sedangkan sakti dari Ida Bhatara Siwa yaitu Dewi Uma menjelma menjadi seorang perempuan yang bernama Ni Puri yang merupakan istri Dukuh Jumpungan.

Turunnya Ida Bhatara Siwa dan Istrinya ke bumi dari Siwa Lokha selain itu juga membawa pengikut sebanyak 150 meraga manusia. 

Turunnya Ida Bhatara Siwa dan Saktinya ke bumi, beserta pengikutnya tersebut-lah awal baru adanya manusia pertama di Nusa Penida.

Membangun desa dan pesraman

Dukuh Jumpungan beserta pengikutnya mulai membangun tempat tinggal yang disebut Padukuhan didaerah sekitar Gunung Mundhi yang rata sekarang lokasi tersebut bernama Desa Rata.

Puncak Gunung Mundhi

Sedangkan puncak Gunung Mundhi dibangun sebuah pesraman yang dikelilingi tetamanan yang berasal dari sumber air yang jumlahnya 8 disebut Asta Gangga yang berasal dari Siwa Lokha, yang ikut turun bersama Ida Bhatara Siwa.

Membangun sebuah perahu

Karena pulau Nusa Penida ini dikelilingi dengan lautan yang sangat luas maka Ida Dukuh Jumpungan berpikir untuk membuat sebuah perahu.

Pada tahun Saka 60, Ida Dukuh Jumpungan ber-semedhi di pesraman puncak Gunung Mundhi. Dari kekuatan adnyana-nya lah muncul sebuah perahu yang sangat indah dan besar sekali.

Setelah perahu sudah selesai maka perahu tersebut diturunkan dari daerah puncak Mundhi menuju ke arah Utara dan sampai ke laut, tepat di pesisir daerah Bodong yang sekarang disebut Tukat Bodong, dan perahu tersebut digunakan berlayar menikmati indahnya lautan bersama istri beliau.

Melahirkan seorang anak laki

Dan kemudian pada tahun Saka 90, Ni Puri melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama I Merja. I Merja tidak begitu senang berlayar.

Dia lebih senang bersemedhi melakukan tapa brata yoga semedhi di Batu Beya memohon keselamatan dunia dan seisi alam semesta.

Pada jaman ini bumi Nusa Penida menjadi makmur, aman sentosa, gemah ripah loh jinawi, berkat kepemimpinan Dukuh Jumpungan.

Setelah Dukuh Jumpungan berumur 95. Ia melakukan yoga semedhi di puncak gunung dan sekarang berdiri pura Puncak Gunung Mundhi sebagai stana Ida Dukuh Jumpungan.

Dan istri Ida Dukuh Jumpungan yaitu Ni Puri, juga,melakukan yoga semedhi di sebuah tempat pada saat berumur 230 dan moksa pada tahun Saka 280.

Sekarang ditempat semedhi nya berdiri pura Batu Melawang sebagai istana Ida Ni Puri.

Goa Betel Ni Puri

Dikisahkan pula bahwa Ni Puri juga pernah melakukan yoga semedhi dan dengan kekuatan adnyana Ida sehingga mampu membuat Goa Betel dari arah Barat pulau Nusa Cenik hingga tembus ke arah Timur pulau Nusa Cenik.

** Nusa cenik nama lain nusa ceningan

Dengan melobangi mulai dari arah Barat maka di Barat pulau Nusa Cenik disebut Batu Melawang. Sedangkan di Timur pulau Nusa Cenik karena tembusan Goa Betel itu kelihatan (ninggias) dari pulau Nusa Gede maka dari arah timur pulau Nusa Cenik tepatnya di sekitar goa disebut Batu Banglas.

Goa Betel merupakan istana payogan Ida Batara Ciwa dan Dewi Uma. Selain tempat itu sebagai istana/payogan juga sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka milik I Renggan.

Merja dan Nu Luna

Diceritakan setelah I Merja dewasa menikah dengan Ni Luna. Yang mana Ni Luna berasal dari Indra Loka, yang turun ke bumi bersama saudarinya Dewi Rohini pada tahun Saka 97.

Tempat turunnya Ni Luna dengan saudarinya itu sekarang disebut daerah Sukun.

Selain bersama saudarinya mereka juga membawa pengikut sebanyak 125 orang, pengikutnya ini semua meraga Denawa (Ksatria indra loka), sedangkan Ni Luna dengan saudaranya dari Dewata menjelma menjadi manusia.

Dewi Rohini di ambil oleh Empu Agni Jaya dijadikan istri yang tinggal di Jungut Batu. Di kisahkan pula bahwa Empu Agni Jaya mempunyai 2 orang putra angkat yang bernama Hyang Naon dan I Rundan yang sekarang mejadi istana Pura Sakenan Jungut Batu.

Melahirkan I Renggan

I Merja pada waktu berumur 160 melakukan yoga semedhi di Batu Beya dan moksa pada tahun Saka 250.

Sedangkan istri I Merja yaitu Ni Luna melakukan yoga semedhi di daerah Batu Banglas pada saat berumur 153 dan moksa pada tahun Saka 250. Sekarang berdiri sebuah pura sebagai istana Ida Ni Luna yaitu Pura Batu Banglas.

Dari perkawinan mereka (I Merja & Ni Luna) lahirlah I Renggan pada tahun Saka 150. I Renggan menikah dengan I Merahim yang lahir tahun Saka 160.