Nusa Penida

Legenda Dan Sejarah Nusa Penida

Legenda-Dan-Sejarah-Nusa-Penida

Gede Mecaling

Alkhisah Legenda Dan Sejarah Nusa Penida pun berlanjut.

Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim lahirlah dua anak. Satu laki-laki dan yang satunya perempuan.

Yang laki-laki bernama I Gede Mecaling lahir pada tahun Saka 180, yang perempuan diberi nama Ni Tole lahir pada tahun Saka 185, diambil sebagai istri oleh Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa.

I Gede Mecaling mempunyai seorang istri yang bergelar Sang Ayu Mas Rajeg Bumi. I Gede Mecaling pun senang melakukan tapa brata yoga semedhi dari kecil.

Pada tahun Saka 250 I Gede Mecaling melakukan yoga semedhi di PED, pengastawanya ditujukan kepada Bhatara Siwa.

Karena ketekunannya I Gede Mecaling melakukan yoga semedhi memohon Wara Nugraha kepada Bhatara Siwa.

Anugrah Kanda Sanga

Tapa semedhi I gede Mecaling membuat Ida Bhatara Siwa berkenan turun ke bumi dari Siwa Lokha. Dan memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panugrahan Kanda Sanga.

Setelah mendapat panugrahan Kanda Sanga maka seketika itu I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya.

Ratu-Gede-Mas-Mecaling

Dengan perubahan yang sedemikian hebatnya. Maka seketika itu jagat raya menjadi guncang, kegaduhan, ketakutan, kengerian yang diakibatkan dari rupa dan suara I Gede Mecaling yang meraung-raung siang dan malam membuat gempar di Marcapada.

Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi kebingungan dibuatnya. Karena tidak satu orang manusia pun di bumi bisa mengalahkan kesaktian yang baru diterima oleh ‘ I Gede Mecaling dari Ida Bhatara Siwa.

Bahkan para dewa pun tidak ada yang bisa menandingi, apa lagi mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya itu.

I-gede-Mecaling
Memotong kedua taring I Gede Mecaling

Di saat semua menjadi kebingungan baik di Marcapada maupun di Swargaloka. Ida Bhatara Guru mempunyai rencana mengundang para dewa untuk mengadakan Paruman (musyawarah).

Di dalam paruman itu disepakati Ida Bhatara Indra ditunjuk turun ke bumi untuk mengatasi I Gede Mecaling yang telah membuat geger alam raya.

Ida Bhatara Indra menyusun siasat untuk menaklukkan I Gede Mecaling. Bertahun-tahun Ida Bhatara Indra melaksanakan siasatnya dengan segala tipu daya dan akhirnya pada tahun Saka 290 baru Bhatara Indra berhasil memotong kedua taring I Gede Mecaling.

Setelah taring dari I Gede Mecaling berhasil dipotong maka membuatnya tidak meraung-raung lagi dan jagat raya menjadi aman kembali.

Setelah berhasil memotong taring dari I Gede Mecaling, Ida Bhatara Indra tinggal di Batu Banglas, dan pada tahun Saka 400 Ida Bhatara Indra pindah ke pulau Nusa Lembongan tepat di Ancak Sari.

Panca Taksu

Diceritakan setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong oleh Ida Bhatara Indra, maka I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semedhi di PED.

Kali ini pengawastanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ludra. Karena ketekunan I Gede Mecaling melakukan semedhi, maka Ida Bhatara Ludra berkenan turun ke Marcapada untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling.

Panugrahan itu diberi nama panugrahan Panca Taksu :

  1. Taksu Kesaktian
  2. Taksu Balian
  3. Taksu Penggeger
  4. Taksu Penolak Grubuk
  5. Taksu mengadakan Kemeranan

Diceritakan setelah Dalem Sawang moksa, seluruh wong samar yang berjumlah 1500 tersebut menjadi bala samarnya I Gede Mecaling.

Sebab I Gede Mecaling meneruskan menjadi raja di Nusa penida pada saat itu dengan bergelar Papak Poleng.

Sedangkan istri dari I Gede Mecaling yang bergelar Sang Ayu Mas Rajeg Bumi dan bergelar Papak Selem

Mereka berdua yang menjadi penguasa dan menjaga pulau Nusa Penida dengan seluruh pasukannya dari Bebutan dan wong samar itu sehingga pulau Nusa Penida menjadi keramat sampai sekarang.

I Gede Mecaling Moksa

I Gede Mecaling melakukan yoga semedhi di PED, pada umur 320, dan moksa pada tahun Saka 400, dan sekarang berdiri sebuah pura yang bernama Pura Dalem PED.

Sedangkan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi meyoga semedhi di Byas Muntig pada umur 245, dan moksa pada tahun Saka 425.

Dan dari perkawinan antara I Gede Mecaling dengan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi, lahirlah empat orang anak. 

  1. Bernama I Gotra adalah seorang laki-laki, lahir tahun Saka 200.
  2. Seorang anak perempuan yang diberi nairia Ni Darmain, lahir tahun Saka 203.
  3. Seorang anak laki-laki yang diberi nama I Undur yang lahir tahun Saka 205.
  4. Seorang anak perempuan yang diberi nama Ni Diah Ranggaeni yang lahir pada tahun Saka 210 dan pada umur 50 tahun melakukan semedhi dan moksa pada tahun Saka 260 di pulau Nusa Lembongan yang sekarang diberi nama Pura Sakenan sebagai istana Ni Diah Ranggaeni.

Referensi daftar bacaan

  • Prasasti Babad Nusa Penida
  • Anonim Pidarta Dukuh Jumpungan
  • Anonim, Kandaning Palalu Renggan
  • Anonim, Panugrahan Ratu Mecaling

Demikian legenda cerita rakyat babad Nusa penida | Legenda Dan Sejarah Nusa Penida. Mohon maaf sebesarnya jika ada yang salah atau kurang dalam penyampaian artikel ini.