PapuaRaja Ampat

Tradisi Sasi Raja Ampat

Tradisi Sasi Raja Ampat

Tentu saja setiap daerah mempunyai adat dan kisahnya tersendiri, salah satunya adalah Tradisi Sasi Raja Ampat. Tradisi ini merupakan tradisi asli dari masyarakat Misool, Raja Ampat.

Tujuannya tradisi ini adalah untuk meminta izin kepad Sang Pencipta sebelum mereka mengambil hasil pertanian dan hasil laut. Unik ya, yuk kita bahas lebih lanjut.

Raja Ampat Papua
Photo by Monalisa Asri

Apa Itu Tradisi Sasi di Raja Ampat?

Sasi bisa berarti sebagai larangan dalam mengambil hasil dari sumber daya alam sebagai upaya untuk pelestarian agar menjaga mutu hingga populasi sumberdaya hayati tetap melimpah.

Karena peraturan-peraturan pada pelaksanaan larangan ini menyangkut pula tentang pengaturan hubungan antara manusia dengan alam. Selain itu juga mengatur manusia pada wilayah di mana larangan tersebut berlaku. Pada hakikatnya tradisi sasi juga sebagai upaya dalam memelihara tata krama manusia dalam hidup bermasyarakat.

Begitu pula upaya pemerataan pembagian maupun pendapatan hasil sumber daya alam yang ada di sekitarnya kepada seluruh penduduk setempat. Sasi saat ini memang lebih cenderung sebagai hukum adat.

Tradisi Sasi sebagai acuan untuk mengambil kebijakan data pengambilan hasil pertanian dan hasil laut. Tetapi secara tradisi ini berlaku di masyarakat yang merupakan bentuk dari etika tradisional.

Tradisi Sasi Masyarakat Masyarakat Misool

Misool, Raja Ampat
Photo by Marischka Prudence

Tradisi Sasi ini terbagi ke dalam dua bagian, ada sasi darat dan sasi laut. Kali ini tradisi sasi yang akan kita bahas adalah tradisi sasi laut yang sudah berjalan turun temurun dalam masyarakat Raja Ampat di Papua. Bahkan juga telah mendapat dukungan oleh Pemerintah daerah.

Nah, sasi laut merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat lokal yang ada di Raja Ampat. Tradisi ini adalah sebagai tanda memulai maupun menyelesaikan masa panen dari hasil laut. Tidak hanya itu, tradisi ini juga berguna untuk memperoleh hasil yang melimpah ketika masa panen. Caranya dengan menutup daerah tersebut sampai jangka waktu tertentu.

Warga di Raja Ampat percaya jika masyarakat pergi ke laut, tentunya kesuksesan mereka terhadap hasil panen tergantung oleh tradisi sasi laut. Kata ‘sasi laut’ sendiri berarti sumpah. Tentunya tradisi sasi ini merupakan cara masyarakat lokal agar memperoleh izin untuk mengambil hasil di kawasan yang mereka lindungi.

Karena untuk mereka, tradisi ini merupakan tradisi yang suci, sehingga setiap orang harus mematuhinya supaya menjaga kesucian dari tradisi ini.

Sasi laut adalah tradisi turun-temurun dan dilakukan warga lokal yang ada di Raja Ampat. Perlu anda ketahui bahwa 85 persen daerah Raja Ampat merupakan lautan. Sehingga kehidupan mereka pun banyak bergantung oleh hasil laut.

Nah, filosofi dari tradisi ini yaitu menghargai hingga meminta izin terlebih dahulu kepada Sang Pencipta ketika mengambil ciptaan-Nya.

Manfaat Sasi Laut Bagi Kelestarian Lingkungan Laut Raja Ampat

Tentunya prosedur tradisi ini akan memberikan manfaat yang cukup signifikan terhadap kelestarian dari biota laut yang ada di Raja Ampat, Papua. Hal ini karena biasanya penentuan daerah dari tradisi sasi laut merupakan daerah yang merupakan habitat hewan laut bernilai ekonomi tinggi. Hewan tersebut salah satunya adalah lobster.

Meskipun hasilnya melimpah, masyarakat ternyata tidak mengambilnya dengan serakah. Misalnya saja dengan melakukan penentuan ukuran lobster yang memang boleh ditangkap serta tidak menangkap begitu saja lobster yang bertelur.

Tentunya hal ini bertujuan supaya benih lobster bisa tetap ada di alam dan tetap lestari. Bahkan bisa dipanen di musim-musim berikutnya.

Ketika melakukan cara ini, pastinya jumlah lobster yang ada di Raja Ampat akan terus melimpah. Nah, penjualan hasil tradisi sasi pun bisa masyarakat Raja Ampat nikmati secara langsung. Biaya yang terkumpul juga tidak sedikit. Biasanya hasil yang terkumpul mereka manfaatkan untuk aktivitas komunal, salah satunya adalah pembangunan fasilitas umum.

Baca juga :

Itu dia penjelasan mengenai Tradisi Sasi Raja Ampat oleh masyarakat Misool di Tanah Papua. Di manapun kita berada tentunya kita juga wajib melestarikan lingkungan alam sekita ya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.