Nusa Penida

Legenda Dan Sejarah Nusa Penida

Legenda-Dan-Sejarah-Nusa-Penida

I Renggan

Alkisah legenda dan sejarah nusa penida pun berlanjut dari seseorang pemuda yang bernama I Renggan. Dimana dia gemar melakukan pertapaan atau Tapa Brata Yoga Samadhi.

Ia bertapa di Pasraman Puncak Gunung Mundhi Nusa Penida.

Karena tekunnya I Renggan melakukan Tapa Brata maka Ida Dukuh Jumpungan yang telah moksa dan berada di Siwa Lokha pun berkenan turun ke bumi menemuinya.

Ida Dukuh Jumpungan memberi semua kesaktian dan anugrah yang diwariskan kepada cucunya yaitu I Renggan.

Karena mendapatkan anugrah dari Ida Dukuh Jumpungan sehingga I Renggan pun mampu membuat senjata berupa keris, tombak dan senjata lainnya.

Selain I Renggan suka bertapa, ia juga suka berlayar mengarungi lautan luas. Maka I Renggan pun diberi Perahu sakti hasil kekuatan adnyana semedhi Ida Dukuh Jumpungan di tahun Saka 60 lalu.

 I Renggan Legenda Dan Sejarah Nusa Penida
Menabrak Nusa Penida

I Renggan menjadi sakti yang tak tertandingi membuatnya menjadi sombong. Karena merasa dirinya sakti maka I Renggan ingin memamerkan kesaktian dirinya dan kesaktian perahu kakeknya kepada dunia.

Semua yang ditabrak oleh perahu Ida Dukuh Jumpungan akan menjadi sirna dan lenyap tanpa bekas.

Maka untuk menguji kesaktiannya dia berencana dengan perahunya akan menabrak pulau Nusa Penida. Namun sebelum I Renggan menabrak Pulau Nusa Penida, beliau melakukan yoga samadi memohon restu pada kakeknya yaitu Dukuh Jumpungan.

Dukuh Jumpungan kembali turun ke bumi memberikan restu pada I Renggan. (Tempat turunnya Dukuh Jumpungan sekarang berdiri sebuah Pura yang bernama Pura Penida).

Nusa Gede & Nusa Cenik

Setelah mendapat restu maka mulailah I Renggan dan anak buahnya melakukan aksinya menabrak Pulau Nusa Penida. Dan pada tahun Saka 200, I Renggan berhasil menabrak pulau Nusa Penida sehingga terbelah menjadi dua bagian, dan membentuk sebuah loloan, yang disebut loloan Penida.

Dua bagian tersebut yang sebelah Selatan lebih besar disebut Nusa Gede, yang lebih kecil disebut Nusa Cenik.

Dengan keberhasilan tersebut maka I Renggan dan anak buahnya yang berjumlah 1500 itu menjadi sangat bangga sekali. Mereka merayakan keberhasilannya itu dengan cara berpesta pora di dalam perahu.

I Renggan terus berkeliling berlayar menuju ke Selatan sampai ke Lautan India, berlayar menuju ke Barat sampai ke Nusa Dua dan sempat singgah disana. Berlayar ke Timur sampai ingin menabrak pulau Lombok, tepat di bako-bako, namun hal itu tidak jadi.

Rencana Menabrak Pulau Bali & Gunung Agung

Melanjutkan pelayarannya menuju ke Utara hingga di Padang Bai. Disinilah I Renggan mempunyai rencana bersama anak buahnya ingin menabrak pulau Bali, mulai dari Padang Bai menuju ke Utara membelah Gunung Agung.

Selain berencana menabrak pulau Bali. Dia juga mempunyai rencana membuat geger rakyat Bali mulai dari Padang Bai dengan membuat teror dan ketakutan disana-sini.

Membakar serangga dan kutu terbang

I Renggan mulai bersemedhi dan mengeluarkan kesaktiannya untuk mengerahkan serangga dan kutu terbang menyerang seluruh tanaman yang ada di Bali.

Rakyat pun menjadi panik dan ketakutan. Melihat hal tersebut raja yang ada di Bali yaitu tepat di Gunung Agung yang bergelar Ida Hyang Toh Langkir penjelmaan dari Bhatara Wisnu yang turun ke bumi pada tahun Saka 40 di Gunung Agung membalas serangga tersebut dengan kesaktian adnyana Ida.

Ida Hyang Toh Langkir menciptakan api yang berhasil membakar serangga dan kutu terbang yang dikerahkan oleh I Renggan.

Semua hangus hancur terbakar menjadi abu, karena banyaknya serangga yang -terbakar sehingga abunya membentuk, sebuah bukit yang disebut Bukit Pawon.

Melihat hal itu I Renggan tidak mau menyerah dan mulai bersemedhi lagi membuat rencana yang lebih besar.

Rencana besar tersebut adalah membuat gempa bumi dan dengan kesaktian perahu-nya berencana menaberak Gunung Agung dimulai dari Padang Bai.

Mengetahui rencana tersebut Ida Hyang Toh Langkir menjadi marah sekali. Lalu mengutuk I Renggan bersama perahunya tersebut agar hanyut dan tenggelam.

Tenggelam Perahu Sakti I Renggan

Maka mulailah Ida Hyang Toh Langkir bersemedhi dengan kekuatan adnyana menciptakan angin ribut. Sehingga perahu I Renggan tidak terkendali terombang-ambing di tengah laut, dan akhirnya hanyut kampih di bias Nusa Cenik.

Ujung depan perahu tersebut membentuk anjungan Nusa Cenik, sementara bagian belakangnya menghadap ke bawah. Sedangkan layar dari perahu tersebut terseret terbawa angin ke arah Barat, ngelembong dan rebah ditengah-tengah pulau Nusa Cenik.

Dari rebahan layar tersebut membentuk laut, yang memisahkan atau membelah pulau Nusa Cenik menjadi dua bagian, di sebelah Selatan Nusa Ceningan dan di sebelah Utara Nusa Lembongan diceritakan pula sekoci (koleg) dari perahu I Renggan dihempaskan gelombang dan terdampar di Teluk Gumblong dan sekarang menjadi Air mata setan (tears devil) Lembongan.

I Renggan Moksa di Nusa Ceningan

Maka setelah perahu kampih di Nusa Cenik maka I Renggan menetap dan bertapa di pulau Nusa Cenik yaitu di Bakung. Setelah I Renggan berumur 150 beliau melakukan tapa brata yoga semedhi dan moksa pada tahun Saka 300.

Sekarang berdiri sebuah pura yang diberi nama Pura Bakung sebagai istana Ida I Renggan yang bergelar Gede Pangerurah.

Sedangkan istri dari I Renggan yaitu Ni Merahim, melakukan tapa brata yoga semedhi di daerah Bodong Nusa Gede sejak umur 90 dan moksa pada tahun Saka 250, dan sekarang disana berdiri sebuah pura yang diberi nama Pura Dalem Bungkut sebagai stana Ida Ni Merahim.

Sementara semua barang-barang pusaka yang ada di perahu itu disimpan di Goa Betel pulau Nusa Cenik. Untuk menjaga kesucian dan kekeramatan pulau Nusa Cenik atau Nusa Ceningan sesuai Bisama Dukuh Jumpungan maka pulau Nusa Cenik dijaga oleh Prati Sentana Ida Dukuh Jumpungan.

Di sebelah Barat Ni Puri, di sebelah Timur Ni Luna, di sebelah Utara I Renggan, .di sebelah Selatan I Undur, sekaligus sebagai penjaga tirta Asta Gangga, yang ada di Bongkol Bebuwu, yang mempunyai wasiat Tri Sakti, sedangkan di seberang lautan sebelah Selatan dijaga oleh Ni Luh Nanda dan di seberang lautan di sebelah Utara dijaga oleh Ni Darmain, Ni Diah Ranggaeni, agar tidak tercemar kesucian dan kekeramatan pulau Nusa Cenik.

Pusaka I Renggan selain disimpan di pulau Nusa Cenik juga disimpan di Gili Gede, Gili Maya Nusa Lembongan dijaga oleh pepatih Gede Mecaling dan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.

Ida Dalem Sawang

Setelah kampih perahu di Nusa Cenik, maka anak buahnya I Renggan yang berjumlah 1500 semuanya berenang menggunakan serpihan perahu yang kampih tersebut, kembali menuju ke pulau Nusa Gede, tidak menetap di pulau Nusa Cenik bersama I Renggan. Setelah beberapa lama berenang dan akhirnya kampih di Bias Muntig sambil membawa serpihan perahu.

Melihat yang demikian, Ida Dalem Sawang putra dari Dewi Rohini yang lahir pada tahun Saka 160 sebagai raja di Nusa Gede menjadi sangat marah sekali dan mengutuk atau memastu semua anak buah I Renggan yang berjumlah 1500 itu karena tidak mengikuti I Renggan menetap di pulau Nusa Cenik.

Wong Samar

Maka mulailah Dalem Sawang bersemedhi pengawastanya ke Durga Dewi, maka seketika itu anak buah I Renggan tersebut menjadi wong samar yang berwujud Bhuta Kala dan berwujud menyeramkan.

Sedangkan serpihan kayu dari perahu tersebut ikut dipastu menjadi kayu yang keramat yang bernama kayu perahu maka seketika itu serpihan kayu itu tumbuh menjadi besar di daerah Bodong.

Dari pastu Dalem Sawang tersebut isinya sebagai berikut :

“Barang siapa yang ingin nyungsung Durga Dewi pengawastanya ke Dalem Nusa sepatutnya menggunakan kayu perahu \ sebagai prelingga sarwa mecaling karena kayu perahu berasal dari pengedrana Ida Bhatara Siwa (Dukuh Jumpungan). Maka sidi, sakli, perkasalah dia”.

Setelah anak buahnya I Renggan dipastu menjadi wong samar lalu ditugaskan menjadi pengabih atau bala tentara samar dari Dalem Sawang.

** Kali ini kita tidak membahas kisah tentang Dalem sawang dalam Legenda Dan Sejarah Nusa Penida ya sobat travela.. namun kita loncat ke keturunan selanjutnya I Renggan & Ni Merahim.