Yogyakarta

Sejarah Keraton Yogyakarta | Bangunan Tua Bernilai Histori Tinggi

sejarah-keraton-jogja

Sejarah Keraton Yogyakarta menjadi hal menarik untuk diketahui. Yuk kita bahas mengenai wisata Keraton Yogyakarta yang punya nilai budaya tinggi.

Seketika kita akan teringat hal-hal seperti kesultanan, abdi dalem, ningrat, darah biru dan lain sebagainya ketika mendengar kata Keraton Yogjakarta.

Pada dasarnya, keraton ini adalah tempat tinggal kesultanan dan keluarga raja yang memimpin kesultanan Yogjakarta.

Kini, bangunan tua ini diabadikan sebagai tempat bersejarah yang bisa dikunjungi oleh semua orang. Tempat ini menjadi sebuah destinasi wisata yang selalu ramai didatangi oleh pengunjung di hari-hari libur.

Ketika liburan ke Jogja bersama anak, Anda bisa lho memasukkan Keraton Jogjakarta ini sebagai salah satu destinasi wisata untuk dikunjungi

Sejarah Keraton Yogjakarta

sejarah-keraton-jogja

Dahulu kala di daerah Jawa bagian tengah selatan terdapat sebuah Kerajaan Islam yang bernama Mataram. Kerajaan ini berpusat di Kota Gede Daerah Istimewa Yogyakarta dan kemudian dipindah ke Kerta, Plered, Kartasura dan Surakarta.

Konflik internal dan intervensi penjajah Belanda memicu pecahnya tampuk kepemimpinan Kerajaan Mataram. Muncul perselisihan dari dua aliran yaitu Prabasuyasa atau Pakubuwana III dengan Raden Mas Said dan Mangkubumi.

Setelah cukup lama mengalami konflik, akhirnya mereka sepakat menandatangani perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755.

Dalam perjanjian ini, kerajaan Mataram akan dipecah menjadi dua bagian. Kasunanan Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh Pakubuwana III. Sementara itu, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Wilayah kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta adalah kota Yogja dan sekitarnya, Pajang, Demak, Kulonprogo, Gunung Kidul dan sekitarnya.

Itulah sejarah Keraton Yogyakarta. Kita tahu bahwa ada dua kesultanan di tanah Jawa yakni Keraton Yojga dan Keraton Surakarta. Hal ini sering didengar ketika sedang study tour ke daerah Yogja dan sekitarnya.

Keduanya memiliki ciri dan budaya khas dan berbeda termasuk tata cara berpakaian, adat istiadat, bahasa, gamelan, tari-tarian, dan lain sebagainya. Semua itu kini menjadi daya tarik tersendiri yang terus dilestarikan.

Bagian Bangunan Keraton Jogjakarta

Semenjak perpecahan kerajaan Mataram, penduduk pulau Jawa pun terbelah menjadi dua yaitu masyarakat kesultanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta. Kedua keraton kesultanan ini sama-sama dijadikan destinasi wisata baik bagi turis asing ataupun dalam negeri.

Selain mengetahui sejarah Keraton Yogyakarta, penting juga mengetahui apa saja bagian-bagian yang terdapat pada wisata Keraton Yogyakarta.

Berikut ini adalah bagian-bagian dalam Keraton Yogyakarta yang terbuka untuk kunjungan umum, diantaranya adalah :

1. Gladhag Pangurakan

Bangunan ini merupakan pintu gerbang utama atau bisa disebut sebagai benteng pertahanan sebelum memasuki area keraton.

2. Bangsal Pagelaran

Tempat ini dahulu dimanfaatkan sebagai tempat untuk pertemuan Sultan dengan para abdi dalem atau abdi keraton. Sekarang ini, Bangsal Pagelaran dipergunakan untuk berbagai kegiatan atau event-event budaya dan pariwisata.

Di bangsal Pagelaran, terdapat sebuah singgasana atau tempat duduk sang Sultan. Singgasana ini menghadap lurus ke arah tugu Jogja.

Posisi ini memang sengaja dibuat seperti itu dengan filosofi bahwa Sultan selalu memperhatikan kehidupan rakyatnya. Memang, pada jaman dahulu semua aktivitas dilakukan di sekitaran Tugu Yogja.

3. Siti Hinggil Ler (Balairung Utara)

wisata keraton yogyakarta
Tabuhan gamelan wanita jawa

Ruangan ini secara tradisi dipergunakan untuk tempat mengadakan upacara resmi kerajaan.

Selain itu, bangunan ini juga dimanfaatkan untuk tempat penyimpanan lambang kerajaan, benda pusaka hingga perangkat gamelan atau alat musik tradisional.

4. Kamandungan Lor

Tempat ini pada jaman dahulu dipergunakan sebagai tempat untuk mengadili perkara dengan ancaman hukuman mati. Pengadilan ini dipimpin langsung oleh Sri Sultan.

Sekarang ini, Kamandungan Lor dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara adat seperti garebeg dan sekaten.

5. Sri Manganti

Sri Manganti adalah ruangan dengan bangsal-bangsal yang dipergunakan sebagai tempat menerima tamu penting kerajaan.

Kini, tempat ini dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan budaya dan pariwisata. Anda juga bisa melihat beberapa alat musik gamelan di sini.

6. Kedhaton

Ketika mempelajari sejarah Keraton Yogyakarta, tentunya tak lepas dengan bangunan kedhaton. Bagian ini adalah inti dari keraton Yogyakarta. Komplek kedhaton dibedakan menjadi tiga bagian. Pertama adalah Pelataran kedhaton yang merupakan tempat tinggal Sultan.

Kedua adalah Keputren yang merupakan bagian para istri dan anak perempuan. Ketiga adalah Kesatriyan yang merupakan bagian untuk anak laki-laki Sultan.

7. Kemagangan

Kemagangan adalah sebuah tempat yang digunakan untuk tempat seleksi penerimaan calon pegawai atau abdi dalem, tempat latihan, ujian serta apel kesetiaan. Bangsal Magangan yang ada di bagian dalam tengah halaman besar.

Bagian ini dipergunakan untuk tempat pertunjukan wayang kulit sebagai penanda selesainya seluruh acara ritual keraton.

8. Siti Hinggil Kidul

Bangunan ini dipergunakan sebagai tempat Sultan menyaksikan beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut ialah para prajurit keraton yang melakukan acara gladi bersih untuk upacara Grebeg.

Selain itu juga sebagai tempat menyaksikan adu manusia dengan macan. Bangunan ini juga merupakan tempat latihan prajurit perempuan.

Tips Liburan ke Tempat Wisata Keraton Yogyakarta

sejarah keraton yogyakarta

Liburan ke tempat bersejarah seperti Keraton Yogyakarta tentu saja harus dan wajib mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tempat ini.

Berikut ini adalah tips-tips liburan dan aturan-aturan di Keraton yang harus Anda ketahui. Diantaranya adalah :

1. Berkunjung sesuai Jam Operasional

Jika ingin lebih lama menikmati setiap bagian di keraton ini, pastikan untuk datang lebih awal atau jangan terlalu sore.

Keraton Yogya dibuka untuk kunjungan umum mulai pukul 09.00 sampai pukul 14.00.

2. Jangan Menyentuh Benda-benda dengan Sembarangan

Sejarah Keraton Yogyakarta dibuktikan dengan adanya banyak benda-benda peninggalan unik di sana. Akan tetapi, ada larangan untuk tidak menyentuh benda-benda tersebut.

Memang, terkadang kita penasaran dengan sebuah benda yang terbilang unik dan menarik perhatian. Akan tetapi, cobalah untuk menahan tangan supaya tidak asal menyentuh benda-benda di sana.

3. Jangan Mengambil Foto dengan Membelakangi Kedhaton dan Abdi Dalem

Sudah biasa ketika kita berkunjung ke suatu tempat wisata untuk mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Namun, jika berfoto di Keraton Yogja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Anda pasti akan ditegur oleh abdi dalem yang berjaga ketika mengambil foto sambil membelakangi kedhaton. Hal ini dianggap tidak menghormati kedathon sebagai perwakilan kesultanan.

Begitu pula ketika berfoto atau swafoto dengan abdi dalem. Anda sebaiknya mengambil pose sebaik mungkin dengan tidak membelakangi mereka. Berfoto dengan membelakangi abdi dalem akan dianggap tidak sopan. Itu karena mereka merupakan pegawai kerajaan yang terhormat dan tidak boleh dipunggungi.

4. Jangan Mengenakan Topi

Suasana di tempat wisata Keraton Yogyakarta sangatlah asri dan sejuk. Oleh sebab itu, anda tidak perlu membawa topi ketika akan berkeliling di dalamnya.

Pemakaian topi di dalam area keraton dianggap sebagai hal yang tidak sopan dan tidak menghormati penduduk keraton. Namun hal ini tidak berlaku untuk jilbab dan peci yang dianggap sebagai perlengkapan ibadah.

Jadi, pastikan untuk menyimpan topi di dalam tas atau dititipkan ke tempat penitipan saja ya!

5. Jangan Duduk di Sembarang Tempat

Setiap sudut di dalam keraton merupakan tempat-tempat yang disucikan dan dijunjung tinggi. Oleh sebab itu, jika anda merasa lelah, carilah tempat duduk atau istirahat yang sudah disediakan.

Jangan asal duduk begitu melihat tempat yang terlihat nyaman. Anda akan kena tegur oleh para abdi dalem.

Kesimpulan

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu bangunan tua dengan nilai histori tinggi. Bangunan ini akan selalu dijaga dan dilestarikan supaya tidak rusak. Mengetahui sejarah Keraton Yogyakarta juga sangat perlu.

Sebagai saksi bersejarah kejadian di masa lampau, keraton ini adalah pelajaran berharga demi mengenang semua kejadian tersebut. Liburan anda akan semakin berharga dan bernilai pendidikan ketika menyempatkan diri mengunjungi tempat ini.

Baca Juga

If you liked this article, then please subscribe our YouTube Channel for support us in presenting tourist video forward. You can also find us on Instagram or direct to Whats-app me for consult your travel plans.

Admin Gotravela | Sejarah Keraton Yogyakarta